Bahasa adalah alat berkomunikasi. Indonesia adalah salah satu negara yang mempunyai keunikan tersendiri dalam segi bahasa. 

Bangga berbahasa Indonesia

Hasil pengamatan saya menyimpulkan beberapa fakta kemahiran bahasa orang Indonesia. Berikut ulasannya;

Pertama, faktor bahasa ibu. Di luar bahasa resminya yaitu Bahasa Indonesia, setiap daerah punya bahasa ibu masing-masing. Otomatis, setidaknya setiap warga Indonesia usia terdidik dan produktif sudah mengusai dua bahasa.

Kedua, faktor agama. Selain dua bahasa tadi ditambah dengan bahasa agama yang dianutnya. Penganut Islam yang taat sadar akan pentingnya mempelajari bahasa Arab untuk memahami Al-Qur’an, hadits dan ilmu-ilmu penunjangnya. Begitu juga agama lain semisal agama Hindu yang berasal dari India mengharuskan penganutnya untuk menggali bahasa Sansekerta. 

Fonemik. Cabang ilmu untuk mempelajari bahasa

Ketiga, faktor globalisasi. Bahasa penting untuk mampu bersaing di kancah global saat ini yaitu bahasa Inggris. Tantangannya bahasa ini terbagi menjadi dua standar internasional, British dan Amerika.

Keempat, faktor tren. Tren budaya di dunia sering berubah-ubah tergantung kuatnya pengaruh bangsa mana yang sedang populer dalam kurun waktu tertentu. Misalnya di abad berjayanya peradaban Arab Islam, ilmu-ilmu di dunia didominasi bahasa Arab. Kemudian berganti dengan masa kemajuan Eropa alias Renaisans (bahasa Latin, Inggris, Perancis). Di era terbaru akhir muncul industri film Hindustan yang populer disebut Bollywood. Banyak orang di tanah air kita menjadi latah ingin bisa berbahasa India. Perkembangan termutakhir adalah derasnya gempuran J-Pop dan K-Pop.

Saya sendiri menguasai dengan cukup baik di dua bahasa, yaitu Indonesia dan Sunda (dialek Sukabumi: lembut, Bogor: pertengahan, Banten: kasar). Bahasa tersier saya Inggris, meskipun tak terlalu aktif karena dibutuhkan untuk pekerjaan saja. Lainnya adalah Arab sebagai bahasa agama dan bergelut juga dengan bahasa Jawa —kepayahan— karena beristri seorang keturunan Surabaya. Kompleks bukan? Hahahaa. :mrgreen:

“Terima kasih” dalam berbagai bahasa dunia.

Dari situ saya jadi menikmati asyiknya menjadi penutur lintas bahasa alias poliglot. Terkadang secara tak sadar mencampurkan dua dialek bahasa ibu sekaligus dalam percakapan sehari-hari. Misalnya dialek Sunda Sukabumi dan Banten, dirusak lagi dengan logat Betawi yang agak kacau. Wah wah wah, pusinglah lawan bicara saya.

Itulah ulasan singkat menurut pengamatan saya tentang faktor-faktor yang mempengaruhi uniknya kemahiran bahasa orang Indonesia. Terima kasih sudah berkunjung. Semoga bermanfaat untuk kemajuan bahasa tanah air kita, bahasa Indonesia.

Iklan