Saya terusik dengan berita perilisan film Dilan karya penulis Pidi Baiq. Jelas jelas terusiklah saya. 

Kehidupan sosok Dilan dalam novel itu hampir terjadi dalam kehidupan sekolah saya dulu saat SMP. 

Otak lumayan, gaya sengaja dibuat selengean. Narsisnya… Hihihi. Ya kan tadi saya bilang ‘hampir’.

Lanjut…

Kehidupan asmara, tak suram suram amat. Saya punya penggemar rahasia yang akhirnya ketahuan juga bahwa dia suka dengan saya. Sayangnya, saya tak pandai menceritakan dalam bentuk novel.

Penggemar saya itu toh akhirnya tak ada yang berjodoh dengan saya. Tak apa. Jodoh memang sudah ada yang mengatur.

Waktu itu saya lemah dalam keuangan. Maka saya fokuskan ‘kekuatan’ dalam bidang akademik dan seni. Seni bikin sastra puisi dan coret coret bebas seperti sekarang ini.

Bisa dibilang seperti ‘Batman’, saat itu mengasah berbagai bidang yang bisa dilakukan. Olah fisik, telaah masalah alias detektif, petualangan, berorganisasi, sampai menggeluti dunia pacaran.

Di sela sela waktu, saya baca buku, melukis dan menulis cerita. Momen teranehnya adalah saat coretan di kantong celana belakang saya diambil secara rahasia oleh guru bahasa Inggris SMP. Untungnya tak dibacakan lantang di depan kelas. Janganlah, kan belum final. Isinya ngawur, bisa membuat saya malu seumur umur.

Iklan