Sudah sekitar sebulan lebih saya tak menulis di blog. Sedang banyak urusan di luar sana, membuat malas untuk menuangkan ide tulisan di blog. Baru sekarang saya bisa memaksakan. Pikiran sedang sedikit galau, daripada nulis di wall Facebook, tak terlalu menarik buat saya.

Kali ini saya membahas konsistensi menulis. Iya, konsisten! Saya menulis bukan semata mengejar materi, tapi lebih dari itu, jalan hidup.

Menulis adalah aktivitas yang baik. Tokoh Islam terkemuka, sahabat Nabi Muhammad saw yaitu Sayyidina Ali RA mengatakan, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. 

Terkadang ada hambatan mental yang diperparah dengan cemooh dari luar diri kita. Misalnya sebutan ‘kuper’, ‘kutu buku’, ‘culun’ dan lain sebagainya. Saya sendiri pernah mengalaminya sewaktu mengenyam pendidikan formal. 

Cemoohan-cemoohan itu hampir menggoyahkan mental saya. Beruntunglah saya karena dikelilingi oleh keluarga dan teman yang sepemikiran. Lama-lama saya semakin kuat bahkan sampai sekarang masih ada teman lama yang menjuluki saya sebagai ‘dosen’, bahkan ‘profesor’.

Untuk konsisten itu berat. Banyak tantangan dan harus Anda sendiri yang ‘menghipnotis’ pikiran, bahwa Anda bisa sukses dengan cara konsisten.

Saya prihatin, minat baca masyarakat Indonesia (menurut informasi beberapa sumber nasional) masih rendah. Sebenarnya ada peningkatan karena masifnya tren digital. Tapi angkanya masih rendah. 

Termasuk saya sendiri yang terkena dampaknya. Buku yang dibeli jadi sedikit terabaikan. Kalah saing oleh info dari portal berita internet. Untungnya ada tugas sampingan di luar jam kerja untuk mendesain rumah. Jadinya memaksakan diri membaca-baca buku arsitektur.

Referensi bacaan memang sedang tergeser oleh tren digital. Tapi masih banyak yang setia dengan bacaan konvensional. Masih ada kelebihan yang tak terdapat dalam mode digital.

Sekian dulu dari saya. Salam untuk kemajuan dunia baca Indonesia.

Iklan