Saya termasuk penyuka dan pemerhati bahasa. Sudah banyak sumber tentang bahasa yang saya lahap. Buku, koran, ensiklopedi, majalah, dan yang terkini adalah internet, termasuk di dalamnya bermacam-macam sosmed dan Youtube.

Kebetulan, nasib menuntun saya hidup di ibukota Jakarta, miniaturnya Indonesia. Sehari-hari bergaul dengan beragam suku. Sekurang-kurangnya ada lima suku bangsa yang saya berinteraksi dengannya. Betawi, Sunda (suku, bahasa asli saya), Jawa (Jogja, Jawa Ngapak), Padang, Batak, dan Tionghoa.

Akhir ahun 2012 Yang Maha Kuasa mempertemukan saya dengan jodoh pujaan hati yang berdomisili di Serang Banten. Delapan bulan kemudian menikah. Jadilah saya sebagai generasi urban di zaman milenial. Dalam setahun beberapa kali pulang pergi ke 3 tempat, Sukabumi (kampung halaman), Jakarta (tempat kerja sehari-hari mencari nafkah) dan Serang Banten.

Ada yang unik dari istri saya. Ayahnya asli Surabaya, ibunya campuran Padang dan Sunda. Tapi tak lancar menggunakan ketiga bahasa itu. Sehari-hari berkomunikasi dengan saya mmenggunakan bahasa nasional kebanggaan, Bahasa Indonesia (kesannya nasionalis amat ya?)

Kondisinya jadi ‘ribet’ di saat saya membawa istri ke Sukabumi. Dia suka berfikiran negatif, menyangka saya mengatakan hal-hal yang buruk tentangnya di hadapan keluarga dan tetangga. Soalnya dia tak paham bahasa Sunda.

Sesekali istri saya keukeuh ngobrol dengan saya pakai bahasa campuran Jawa Surabaya-Serang. Padahal saya sedang di Sukabumi. Ya saya layani meski dengan terbata-bata. 

“Mas. Sampeyan ngomong opo se? Ngomongin aku…? Awas yo. Aku arep muleh”. Keluarga saya hanya bengong. 

“Ngomong naon eta Jang, si Ovi teh? Bisa ning maneh basa Jawa?” (Ngomong apa dia Jang? Kok bisa kamu ngobrol bahasa Jawa).

 “Ah, lain nanaon Umi. Bingung cenah. Teu ngarti nu diobrolkeun” (Ah, bukan apa-apa Umi. Ovi bingung. Gak ngerti apa yang kita obrolin). Begitulah ribetnya ngobrol sambil jadi ‘translator’ dua bahasa.

Beda halnya saat saya berada di Serang Banten. Saya faham bahasa sana, cuman tak lancar buat menjawab percakapan. Khawatir salah ucap, berabe deh ujungnya. 

Beberapa orang di sana bertanya begini, “Sira basane Jawa apeu RI?” (“Kamu bicara bahasa Jawa apa Indonesia?”). Saya jawab, “RI Mbah. Aku ra lancar Basa Jawa. Aku wong Sunda. Kerjane neng Jakarta” (“RI nek. Saya tak lancar bahasa Jawa. Aku orang Sunda. Kerja di Jakarta”).

Berbeda lagi dengan bahasa pergaulan saya dengan teman kerja yang berasal dari Pandeglang. Bahasa Sunda mereka seperti orang Badui bercampur Jawa Serang. Begini misalnya, “Kamana bae dia, Jang? Aing di mes euweuh batur yeuh. Di buri oge tiiseun. Teras balatak ku sendal. Dibalang-balangkeun ku barudak sakahayangna wae”.

Kata ‘dia’ di percakapan di atas ditujukan untuk lawan bicara. Artinya ‘kamu’. Kata ‘buri’ serapan dari bahasa Jawa. Kata ‘dibalang-balangkeun’ artinya dilemparkan, tidak dipakai di daerah Sunda lain.

Logat mereka kaku alias ‘heuras beuheung’ (kaku leher). Berbeda dengan Sunda Jampang yang mengalun seperti orang Riau. Yang terbiasa pasti akan sedikit tertawa mendengar logat mereka, karena seperti berbicara seperti baca pantun Melayu. Nadanya mengalun, naik turun. Persis daerah mereka yang naik turun gunung. Hehehe.

Sementara segitu dulu pengalaman saya tentang serba-serbi kehidupan pengguna multi lingual. 

Anda bisa berapa bahasa?

Iklan