Saya penggemar bahasa juga. Latar belakang keluarga saya adalah ‘literer’. Itu istilah saya sendiri untuk para penghobi literasi. Terutama dari pihak ibu. Maka pantas jika passion itu turun kepada anak-anaknya.

Sebagai orang yang lahir dari etnik Sunda, hidup dari kecil sampai besar di sana. Maka identitas budaya saya adalah Sunda.

Ini bukan rasis. Tapi kampanye tentang perlunya kebanggaan atas identitas kita. Bukan untuk memecah belah. Tapi memperkuat persatuan bangsa Indonesia.

Kita sudah paham betul bahwa bangsa Indonesia dibangun dari berbagai etnik. Salah satunya adalah etnik Sunda.

Ada kekhawatiran bahwa dasar kebudayaan bangsa kita semakin memudar akibat kemajuan era digital.

Bisa iya, bisa juga tidak.

Memudar jika dibiarkan saja. Tidak akan memudar jika setiap etnik daerah bangga dengan budayanya itu. Di era digital ini ada peluang untuk menggairahkan budaya daerah.

Caranya banyak. Ok, saya sebutkan beberapa contohnya.

  • Membuat situs tentang budaya daerah.
  • Membuat forum atau komunitas kebudayaan di internet, sosmed.
  • Membuat tulisan di internet menggunakan bahasa daerah.
  • Berbicara bahasa daerah bila bertemu dengan orang sesama etnik.
  • Lain-lain.

Untuk budaya Sunda sendiri, saya akui masih kalah jauh dari budaya Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Contoh yang gampang, musik koplo akhir-akhir ini sedang booming setelah baiknya popularitas Via Vallen dan Nella Kharisma. Judul lagunya saya tahu, beberapa di antaranya adalah ‘Semar Mesem’, ‘Konco Turu’, ‘Edan Turun’.

Musik Sunda mana?

Musik Jawa sudah lebih maju dan tertata dalam membangun peradabannya. Para sastrawan mereka sudah lebih dulu menerbitkan buku-buku di zaman kerajaan kuno.

Buku-buku kuno Jawa itu menandakan budaya literasinya sudah maju dan tertata rapih. Sedangkan literasi Sunda saat itu belum semaju di Jawa Tengah dan Timur.

Adapun ditemukan beberapa catatan literasi Sunda buhun di daerah Jawa Barat. Itupun kurang lengkap karena sebagian besar telah diambil oleh bangsa Belanda di masa penjajahan.

Kembali ke masa modern ini, saya mengajak dengan kesadaran untuk menggali kebanggaan generasi muda akan kekayaan budaya daerah masing-masing. Budaya adalah kekayaan bangsa yang tak ternilai harganya.

Cintai seni daerah. Itu bisa jadi daya tarik dalam mempromosikan program wisata.

Iklan