Beberapa bulan lalu saya mendengar dan membaca isu tentang punahnya beberapa bahasa ibu di Indonesia. Untuk wilayah terdekat misalnya pulau Jawa, isu ini sebenarnya sudah lama merebak.

Memang benar adanya. Saya sebagai orang tulen daerah Sunda merasakan hal ini. Setiap pulang ke Sukabumi, kampung halaman saya, anak-anak, ibu-ibu dan mereka yang sudah nempel dengan ‘smartphone’ pasti merasa ‘gaul’ kalau bicara pakai bahasa ‘eR-i’.

Apakah saya menentang bahasa persatuan?!

Tidak. Ini masalah kekayaan budaya. Budaya lokal adalah harta yang amat sangat berharga. Saya cinta bahasa Indonesia. Tapi di Jakarta, orang multilingual itu spesial ‘bin’ istimewa.

Masa sih?!

Banyak rekan kerja saya yang asli Betawi ‘kepengen banget’ belajar bahasa daerah lain. Alhamdulillah saya adalah professor linguistik. Selain bahasa manusia, saya juga mempelajari bahasa pemrograman. Bahasa Sunda, apalagi.

Terus bagaimana pandangan saya tentang isu kepunahan bahasa-bahasa ibu di Indonesia?

Pertama, tanamkan di pikiran kita bahwa bahasa ibu adalah harta kekayaan bangsa yang amat sangat berharga. Manuskrip kuno bahasa Sunda di-rampok oleh Belanda di masa penjajahan. Mereka sangat tahu tentang pola pikir ini.

Kedua, banggalah akan asal-usul etnis kita. Tapi bukan untuk saling menjatuhkan etnis lain. Semua etnis di dunia sama. Punya kelebihan dan kekurangan. Contohnya saya, bangga akan etnis Sunda karena itu pilihan Tuhan Yang Maha Menentukan.

Ketiga, proporsional dalam menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa ibu. Harus tahu tempat, situasi dan kondisi. Anda jago bahasa asing pun tak berguna jika bukan pada tempatnya.

Saya batasi dahulu dengan tiga point terpenting. Poin lainnya silahkan gali sendiri. Semoga bermanfaat.

Salam sukses!