Isu Anak Jadi Idiot Karena Kelamaan Diberi ASI itu Ngawur

Ibu ibu di warung depan rumah saya masih bertanya ke saya soal kapan anak saya akan disapih. “Masih jauh” kata saya. Umur anak saya saat itu memang masih satu tahun setengah.

“Udah cukup itu” kata salah satu ibu ibu yang kebetulan duduk di warung jus Mbak Ino. “Kalau kelamaan ntar anak kamu jadi idiot” lanjutnya. Saya tak memperdulikan omongannya. Cuma ngomong ‘iya’ saja supaya tidak menimbulkan perdebatan.

Pernyataan itu sebenarnya membuat saya merasa sebal. Idiot apa? Saya saja dulu disusui ASI oleh ibu saya sampai umur empat tahun. Catat, EMPAT tahun! Saya masih normal tanpa ada gejala idiot. Malah kata beberapa teman, saya ini termasuk jenius.

Salah satu sifat buruk warga +62 itu suka membuat pernyataan sok ilmiah tanpa dasar. Orang yang mendengar juga mengiyakan saja tanpa memeriksa lagi info sesat tersebut. Akhirnya terjadilah penyebaran informasi sesat dan menyesatkan.

Di era digital ini mestinya masyarakat lebih selektif dalam menerima informasi. Segala informasi tersedia di internet. Jangan sampai perangkat canggih yang ada di genggaman tidak ada manfaatnya.

Anakku, Maafkan Ayah

Kali ini aku agak lebay. Ini menyangkut kebahagiaan putriku yang masih batita. Ayah mana yang tega membiarkan putrinya menderita.

Hancur hati ini melihat dia, putriku yang masih asyik menyusu kepada ibunya mesti disapih dengan paksaan. Aku dan istriku termakan informasi murahan yang mengharuskan kami menyapihnya dengan paksa.

Bodoh! Sungguh bodohnya aku sebagai kepala keluarga. Tega, tega melepaskan buaian lembut sang ibu dari dirinya.

Dua malam ini aku menangis melihat putriku yang cantik, manis dan lucu itu harus mendendam. Perlahan memudar keriangannya.

Aku beri makanan, dia bilang “gak mau!”.

Aku beri mainan, masih bilang “gak mau!”

Aku beri susu formula, lagi lagi bilang “gak mau!”

“Ya Allaaah. Mesti bagaimana ini?”

Bagaimana akan kesehatannya nanti kalau semuanya serba “gak mau”? Sekarang saja badannya yang montok jadi mengecil.

Aku terlanjur menyapihnya gara gara sang ibu keguguran. Setelah kutanya dokter di grup Whatsapp, ternyata tidak perlu disapih paksa jika kandungan yang keguguran itu sudah bersih.

Tapi putri kecilku terlanjur marah dan tak mau menyusu lagi kepada ibunya. Sayangnya dia tak mampu mengungkapkan lewat kata kata. Hanya rasa gelisah (yang amat sangat) saja yang kubaca dari gerak geriknya.

Susah tidur. Mondar mandir tak karuan. Mainan diacak acak. Dirapihkan. Diacak acak lagi. Main air sampai mengguyur basah lantai keramik. Bahkan sempat hampir jatuh terpeleset kalau tak kutangkap badannya yang mulai lemas.

Sambil menetes air mataku ini, kubisikkan dengan lembut di telinganya. “Syabina cantik. Anak kesayangan Ayah. Udah mainnya. Lihat tuh mamah, udah bobo dari tadi.”

Dengan cuek dan masih memainkan boneka Barbie-nya dia jawab, “gak mau”.

Kutatap matanya, “Syabina. Lihat Ayah!”. Tangannya yang lembut menyingkirkan wajahku dari pandangannya sambil mengatakan, “gak mau!”

Kutatap lagi matanya sambil berurai air mata. “Syabina. Lihat mata Ayah. Usap sini!”. Reaksinya membuatku terenyuh. Selimut kecilnya diusapkan ke wajahku, mengusap air mata yang berurai jatuh karena rasa menyesal.

Hancur perasaanku ini. Anak pertama yang kutunggu kehadirannya lima tahun, kini terluka oleh kecerobohanku sendiri.

Kumohon Ya Allaah. Kembalikan lagi kebahagiaanya.

Review Bernardi Corned Beef

Aslm Alaikum.

ketemu lagi dengan blogger tukang review produk yang tak beriklan di tv. kali ini saya mau me-review produk daging olahan dalam kaleng. istilah kerennya adalah beef.

Bernardi Corned Beef, tampak depan.

Desain produk ini bagus sekali. bernuansa klasik dan vintage, tapi font yang digunakan memberi kesan modern. Warna coklat juga menguatkan kesan vintage tadi, masuk untuk segala kondisi psikologis.

Tampak samping. Logo versi lawas.

Ke sisi sebelah kiri, masih eksis tuh logo brand versi lama. jadul sekali, ala tahun 70-an. Sikap yang berani mempertahankan identitas lama, juga berimprovisasi dengan inovasi kekinian.

Informasi nilai gizi.

Beralih ke sisi berikutnya, informasi nilai gizi. Format sederhana begini cocok sekali dengan citra brand yang dibentuk. Vintage itu melekat dengan kesederhanaan. Berbeda dengan konsep seperti brand Nestle.

Komposisi.

Ternyata brand ini berdiri di tahun 80-an. Font yang digunakan memang pas. Berbeda jauh dengan font font yang digunakan untuk produk di tahun 2020 ini, sangat bervariasi.

Tampak atas.

Tampilan atas juga tak dibiarkan kosong, tapi diisi dengan tempelan gambar daging yang segar. Menggugah selera!

Bagian pembuka kalengnya di sisi bawah.

Setahu saya, bagian pembuka sebuah ‘beef’ itu adanya di sisi atas. Brand ini menempatkannya di sisi yang tak lazim, yaitu di sisi bawah.

Tepat! Sisi ini tidak perlu diperlihatkan ke pelanggan karena sudah ada sisi atas yang bergambar daging segar.

Selamat mencoba!

Anak Pesantren Ribut Isu Global 2020

Tahun 2003 gencar isu perdagangan bebas. Saat itu saya masih kelas 3 SMP. Obrolan dua orang yang sama sama ngotot tidak setuju dengan perdagangan bebas tersebut masih terngiang di telinga saya.

Ilustrasi perdagangan bebas. Sumber: Pexels.com

Waktu itu jam 10 pagi, sehabis pelajaran olahraga berenang, saya diajak mengunjungi rumahnya. Sudah biasa, kadang kadang dua kelas yang berbeda bisa melaksanakan kegiatan pelajaran olahraga di jam yang sama. Saya termasuk orang luwes, bisa berbaur dengan banyak orang dari 6 kelas yang berbeda dalam satu angkatan.

“Hayu, ulin heula ka imah urang. Loba caneuteun teu kadahar (Ayo, main dulu ke rumah saya. Banyak cemilan gak kemakan),” ajaknya dengan menggebu gebu. Saya pun mengiyakan karena ingin mengenalnya lebih akrab.

Ilustrasi ‘caneut’. Sumber: Pexels.com

Kesan yang saya dapatkan setelah masuk ke rumahnya adalah sedikit tegang tapi asik. Istilahnya ‘ngeri ngeri sedap’ —–istilah ini dipopulerkan oleh Alm. Sutan Batughana politisi Partai Demokrat. Kenapa saya sebut demikian? Ngeri karena suasana rumahnya yang sepi, ditambah dengan watak si Basir yang intonasi bicaranya agak keras, membuat khawatir salah ngomong jadi perkara. Sedap karena memang sedang banyak ‘caneut’ yang rasanya sedap.

Rumah si Basir, teman saya itu persis bersebelahan dengan pesantren tradisional. Saat saya mencicipi ‘caneut’ (cemilan) di kamarnya, saya dikagetkan dengan kemunculan temannya yang bagaikan ‘jelangkung’, datang tak dijemput. Masuk saja dengan santai, langsung ikut nimbrung tanpa rasa sungkan.

Ilustrasi santri. Sumber: its.ac.id

Temannya si Basir itu adalah santri. Ini berdasarkan dari caranya berbicara penuh sopan santun, punya adab dan yang dia bicarakan, 70% bertema keislaman. Pakaian yang dia pakai jelas sekali menunjukkan kesantriannya, pakai sarung dan peci. Di kamar itu tertumpuk berbagai judul kitab kuning dan buku Islam. Lainnya, kamus bahasa Inggris-Indonesia dan buku pelajaran SMP si Basir.

Ilustrasi kitab kuning. Sumber: Liputan6.com

Sesekali saya mengajak ngobrol si santri yang saat itu numpang minum kopi, makan caneut, plus sambil baca novel Islam. Beuh! Mantap sekali tuh. Judulnya tak terlihat jelas karena sudut pandangan saya untuk mengintip agak susah.

Tak terasa sudah hampir sejam saya di sana. Menjelang jam 11 siang si Basir dan temannya jadi serius membicarakan isu perdagangan bebas dunia yang akan dimulai tahun 2020. Keduanya sama sama menolak isu tersebut karena membahayakan ekonomi kaum pribumi. Keduanya agak beda pendapat karena berbeda latar pendidikan.

Tiba tiba si Basir menanyakan pendapat saya soal isu tersebut. Saya jawab bahwa saya belum bisa jawab dengan tuntas karena saat itu masih kekurangan sumber informasi. Data yang didapat masih simpang siur. Buktinya mereka beradu omongan seolah saling mengajari bahwa isu itu begini, yang satunya bilang begitu.

Kenapa sibuk meributkan hal yang belum jelas kebenarannya? Hehehee, saya berlagak bijak.😁 Supaya suasana saat itu jangan makin panas, saya ambil jalan tengah.

Sekarang tak terasa tahun 2020 sudah lewat. Ternyata benar adanya, perdagangan bebas lintas negara sudah terjadi. Tapi ketakutan yang diributkan si Basir dengan teman santrinya itu tidak semuanya muncul jadi kenyataan. Buktinya ekonomi pribumi tetap bisa bertahan dari gempuran asing. Kuncinya ada pada penguasaan teknologi.