Anak Pesantren Ribut Isu Global 2020

Tahun 2003 gencar isu perdagangan bebas. Saat itu saya masih kelas 3 SMP. Obrolan dua orang yang sama sama ngotot tidak setuju dengan perdagangan bebas tersebut masih terngiang di telinga saya.

Ilustrasi perdagangan bebas. Sumber: Pexels.com

Waktu itu jam 10 pagi, sehabis pelajaran olahraga berenang, saya diajak mengunjungi rumahnya. Sudah biasa, kadang kadang dua kelas yang berbeda bisa melaksanakan kegiatan pelajaran olahraga di jam yang sama. Saya termasuk orang luwes, bisa berbaur dengan banyak orang dari 6 kelas yang berbeda dalam satu angkatan.

“Hayu, ulin heula ka imah urang. Loba caneuteun teu kadahar (Ayo, main dulu ke rumah saya. Banyak cemilan gak kemakan),” ajaknya dengan menggebu gebu. Saya pun mengiyakan karena ingin mengenalnya lebih akrab.

Ilustrasi ‘caneut’. Sumber: Pexels.com

Kesan yang saya dapatkan setelah masuk ke rumahnya adalah sedikit tegang tapi asik. Istilahnya ‘ngeri ngeri sedap’ —–istilah ini dipopulerkan oleh Alm. Sutan Batughana politisi Partai Demokrat. Kenapa saya sebut demikian? Ngeri karena suasana rumahnya yang sepi, ditambah dengan watak si Basir yang intonasi bicaranya agak keras, membuat khawatir salah ngomong jadi perkara. Sedap karena memang sedang banyak ‘caneut’ yang rasanya sedap.

Rumah si Basir, teman saya itu persis bersebelahan dengan pesantren tradisional. Saat saya mencicipi ‘caneut’ (cemilan) di kamarnya, saya dikagetkan dengan kemunculan temannya yang bagaikan ‘jelangkung’, datang tak dijemput. Masuk saja dengan santai, langsung ikut nimbrung tanpa rasa sungkan.

Ilustrasi santri. Sumber: its.ac.id

Temannya si Basir itu adalah santri. Ini berdasarkan dari caranya berbicara penuh sopan santun, punya adab dan yang dia bicarakan, 70% bertema keislaman. Pakaian yang dia pakai jelas sekali menunjukkan kesantriannya, pakai sarung dan peci. Di kamar itu tertumpuk berbagai judul kitab kuning dan buku Islam. Lainnya, kamus bahasa Inggris-Indonesia dan buku pelajaran SMP si Basir.

Ilustrasi kitab kuning. Sumber: Liputan6.com

Sesekali saya mengajak ngobrol si santri yang saat itu numpang minum kopi, makan caneut, plus sambil baca novel Islam. Beuh! Mantap sekali tuh. Judulnya tak terlihat jelas karena sudut pandangan saya untuk mengintip agak susah.

Tak terasa sudah hampir sejam saya di sana. Menjelang jam 11 siang si Basir dan temannya jadi serius membicarakan isu perdagangan bebas dunia yang akan dimulai tahun 2020. Keduanya sama sama menolak isu tersebut karena membahayakan ekonomi kaum pribumi. Keduanya agak beda pendapat karena berbeda latar pendidikan.

Tiba tiba si Basir menanyakan pendapat saya soal isu tersebut. Saya jawab bahwa saya belum bisa jawab dengan tuntas karena saat itu masih kekurangan sumber informasi. Data yang didapat masih simpang siur. Buktinya mereka beradu omongan seolah saling mengajari bahwa isu itu begini, yang satunya bilang begitu.

Kenapa sibuk meributkan hal yang belum jelas kebenarannya? Hehehee, saya berlagak bijak.😁 Supaya suasana saat itu jangan makin panas, saya ambil jalan tengah.

Sekarang tak terasa tahun 2020 sudah lewat. Ternyata benar adanya, perdagangan bebas lintas negara sudah terjadi. Tapi ketakutan yang diributkan si Basir dengan teman santrinya itu tidak semuanya muncul jadi kenyataan. Buktinya ekonomi pribumi tetap bisa bertahan dari gempuran asing. Kuncinya ada pada penguasaan teknologi.

Beban Dianggap Y***di

Bagaimana jika Anda terlahir dengan kutukan?

Pertanyaan yang menyeramkan. Tapi bisa saja hal tersebut memang dialami oleh beberapa orang di berbagai belahan dunia yang luas ini. Dari sekian banyak artikel yang sudah saya ‘lahap’, fakta menunjukkan bahwa terlahir dengan kutukan itu benar adanya.

Saya kaitkan dengan olah pikiran atau mengatur sudut pandang. Contohnya CEO Alibaba, Jack Ma. Kondisinya yang lahir dari keluarga sangat susah menurut saya adalah kondisi ‘terkutuk’, tapi olah pola pikir yang tepat mampu mengubah kutukan menjadi anugerah.

Sebaliknya, anugerah yang istimewa dari bisa jadi kutukan jika digunakan dengan cara yang salah. Misalnya orang kaya yang terjerumus ke dalam organisasi teroris, orang jenius yang menjadi hacker jahat dan lain lain.

Sedikit menyerempet ke dunia konspirasi, saya sambungkan dengan hal hal yang bermuatan illuminati dan Yahudi. Banyak hal akan tersangkut paut ke dalamnya. Misalnya film Marvel Cinematic Studios, Warner Bross, George Soros, Stephen Spielberg dan lain lain.

Ilustrasi film Spider-man. Sumber: Pexels

Kenapa demikian? Karena ada beberapa peristiwa yang pernah saya alami dan menjurus ke sana.

Apakah saya Yahudi? Tidak, bukan. Tapi beberapa kali orang yang pernah bergaul dengan saya menyebut (sifat) saya (seperti) Yahudi. Respon otak saya beraneka ragam, tersinggung, bingung, dan penasaran dengan asal usul genetik dari silsilah keluarga saya.

Contoh simbol budaya Ibrani. Sumber: Pexels

Banyak juga orang yang menyebut saya dan keluarga adalah orang yang dianugerahi kejeniusan. Ada perasaan terbebani, apalagi jika orang yang memanggil keluarga kami dengan gelar “prof”. Gelar itu saya dengar sejak umur 13 tahun. Saya khawatir digugat oleh lembaga resmi yang memang berkualifikasi dalam pemberian gelar akademis.

Ilustrasi jenius. Sumber: Pexels

Pada mulanya saya abaikan saja. Tapi sekian tahun kemudian ternyata pernyataan rasis tersebut muncul lagi dari orang sekitar di tempat yang berbeda. Lantas timbul pertanyaan dalam benak saya, “Apakah ini terjadi juga terhadap keluarga saya yang lain?”

Kejeniusan yang terlanjur menempel dari kakek buyut keluarga saya adalah anugerah, tapi ‘cap’ Yahudi dari orang orang sekitar itu serasa jadi kutukan. Saya tetap memilih untuk bungkam walaupun ada beban mengganjal.

Jika saja saat itu saya menggugat mereka yang mengatakan “dasar kamu otak Yahudi!” mungkin rasa penasaran ini sudah terjawab. Tapi ada rasa khawatir menjadi besar karena isu ini sensitif.

Saya lahir dari keluarga Muslim, ajaran yang saya praktekkan juga Islam, seenaknya saja mereka menyebut saya Yahudi. Dari mana dasarnya pernyataan yang membingungkan itu? Kenapa tidak mereka jelaskan saat itu juga agar saya tidak terus dihantui beban rasial berkepanjangan?

Belajar dari pengalaman saya, sebaiknya jangan sembarangan memberi ‘penghakiman’ terhadap orang lain. Masih untung jika orang yang dihakimi secara verbal itu memiliki kesabaran tingkat ‘dewa’. Kalau dia tempramental, bisa gawat. Urusan bisa berlanjut ke meja pengadil. Repot deh.

Demikian dulu ulasan kali ini. Semoga bermanfaat. Salam semangat dan sukses selalu!

Kantuk di Akhir Pekan

Sudah lama saya tak merasakan perjalanan menaiki KRL di akhir pekan. Salah satu penyebabnya adalah akibat pandemi covid-19. Melihat ekspresi beberapa penumpang yang mengantuk di pagi hari menggoda tangan saya untuk mengambil gambarnya.

Ini murni untuk seni, tak ada niat untuk menjatuhkan. Foto di atas cukup bagus menurut insting saya. Pemandangan seperti ini jarang terjadi.

Bagi ‘manusia kereta’ seperti saya selalu ada orang mengantuk dan tertidur di kereta. Bahkan hampir setiap pagi saya menemukannya. Tapi ‘moment’ yang tepat itu tidak terjadi setiap hari.

Gaya Hidup Santri Millenial

Bismillaah

lingkungan dan keluarga saya cukup kental dengan kehidupan santri tradisional di daerah perkampungan.

bertahun tahun lamanya saya menjalani kehidupan yang mendekati asketisme. ada ketakutan jika harus terus menerus hidup dlm kungkungan masyarakat santri kolot.

untungnya zaman sudah masuk ke era digital. mau tak mau, mereka yang pemikirannya kolot, jumud dan anti perubahan dipaksa untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

pemikiran dan gaya saya masih santri NU. tapi tetap membuka mata untuk era yang sudah modern. mengambil manfaat darinya.

di Jakarta, saya masih mengikuti acara ‘marhaba’an’, tahlilan, baca ‘hadiah’ dan lainnya.

di luar itu saya juga suka baca koran, baca novel, baca blog, buku-buku populer kekinian. hal ini kurang disukai para guru pesantren di kampung saya. katanya bisa membuat pemikiran jadi kebarat baratan. akhirnya sekuler dan menentang pemikiran para kiyai sepuh.

sewaktu masih remaja, saya telan bulat bulat paham itu. Setelah bersinggungan dengan berbagai macam pergaulan dan pemikiran, akhirnya saya menemukan formula yang pas tentang definisi gaya hidup ber-Islam untuk kaum urban millenial.

belum final, tapi 95 persen dapat diuji secara keilmuan, bukan taklid buta.

dugaan saya ternyata betul. Beberapa orang di kampung, termasuk beberapa kiyai mencap saya sudah melenceng dari garis lurus NU.

saya tidak kaget. memang begitu resikonya ketika teguh bersikap, selalu ada pro dan kontra. kalau sudah yakin, jalan terus, jangan mundur.