Pembaca Bertambah, Semangat Lagi

Alhamdulillaah. Follower bertambah, jadi semangat lagi untuk menulis. Beberapa hari terakhir saya sempat down. Salah satu sebab terbesarnya karena pandemi covid-19. Teman kerja banyak yang kena PHK. Gaji saya dikurangi juga. Hilang semangat hidup. Hilang semangat menulis.

Image by Markus Spiske on Pexels

“Buat apa menulis? Sekedar mengungkapkan pikiran, tak menghasilkan rupiah! Upload video di Youtube dan Instagram juga belum bisa nambah menghasilan” begitu gejolak batin saya.

Covid-19 memang ujian yang sangat berat dan dampaknya benar benar hebat. Bukan hanya materi, tapi juga menghantam sisi psikis manusia. Saya sendiri yang merasakan hantamannya begitu keras.

Dihantui perasaan takut mati. Dikucilkan oleh masyarakat. Organ tubuh dalam menjadi rusak. Harus minum obat pernapasan secara teratur, dan masih banyak lagi dampak yang saya rasakan.

Untungnya Yang Maha Kuasa masih menyayangi saya yang sering melupakan-Nya. Saya masih diberi kekuatan. Imun masih kuat walau organ dalam ada yang terpapar. Dunia digital juga cukup membatu pertahanan dan aliran denyut kehidupan masyarakat.

Notifikasi dari WordPress

Saat kelesuan sedang mendera kehidupan, tiba tiba ada notifikasi yang memberitahukan bahwa pembaca saya bertambah. Semangat menulis jadi muncul kembali.

Memang secara materi, aktifitas ini belum bisa menambah income. Tapi saya ingat lagi tujuan awal jadi penulis blog, yaitu berbagi manfaat. Ada manfaat yang saya raih di luar materi, yaitu kepuasan batin.

John C. Maxwell pernah mengatakan bahwa pemikiran adalah pengaruh. Saya setuju. Isi pikiran ini adalah hasil pengaruh dari berbagai pemikiran. Begitu juga, hasil reaksi fusi —-seperti dalam dunia nuklir—- pikiran ini juga secara hukum kekekalan energi, mau tak mau pasti keluar dari dalam isi kepala. Salah satunya lewat blog.

Bahagia sekali jika pemikiran pemikiran saya bermanfaat dan diaplikasikan oleh orang lain. Kemudian diadopsi lagi oleh yang lainnya. Seterusnya seperti itu. Maka ada perubahan kecil terjadi dalam masyarakat. Meskipun tidak masif, tetap ada makna yang tersampaikan.

Seperti kata Andrea Hirata dalam salah satu perbincangan dengan para penggemarnya, beliau mengatakan bahwa menulis itu mesti ikhlas dahulu. Jangan diniatkan untuk hal lain, misalnya demi meraih popularitas.

Bob Sadino. Image by BisnisUKM.com

Berbeda lagi dengan kutipan ‘goblok’ dari Bob Sadino. Beliau berjualan itu nyari rugi. Kalau malah untung, bersyukurnya jadi dua kali lipat.

Isi redaksinya berbeda. Tapi inti maknanya sama. Berbuat kebaikan itu mesti ikhlas dulu. Jangan berharap muluk muluk supaya tidak kecewa. Berusaha semaksimal mungkin walau hasilnya belum juga terlihat.

Ingat lagi kata kata ajaib ini, “Keajaiban itu akan datang kepada mereka yang berupaya tanpa lelah, tak pernah menyerah”. Itu benar! Yang Maha Kuasa tidak pernah salah dalam menentukan jalan hidup kita. Kalau sudah berupaya maksimal, tinggal berpikir yang baik kepada-Nya.

Itulah yang saya rasakan. Bukan menyontek dari ceramahnya ustadz di Youtube. Jalani semua dengan benar. Sepahit apapun jalan kehidupan, hadapi dengan bersih. Jangan lakukan permainan yang kotor. Karena itu akan kembali kepada tangan yang berbuat. Berbuat licik akan menuai api. Berbuat baik akan menuai madu.

Panjang amat ceramahnya. Ustadz juga bukan. Sekali lagi saya ingatkan. Hanya berbagi pemikiran. Agar jangan menyerah menyebar manfaat lewat tulisan. Semoga bermanfaat.

Kliping Reader’s Digest Desember 2010 Part 1

Saya masih menyimpan beberapa sumber bacaan favorit. Beberapa di antaranya adalah majalah Intisari dan Reader’s Digest.

Waktu itu hari Sabtu jam 5 sore, pikiran sedang ruwet karena berbagai urusan, salah satunya adalah karena masih jomblo. Hihihihi… Mampirlah saya ke toko buku favorit saya, Gramedia Mall Cijantung, Jakarta Timur.

Naluri seni saya mendorong untuk mengabadikan bagian bagian yang —secara visual— sedap dipandang mata, tidak lekang oleh waktu. Sangat sayang jika bagian bagian itu hilang menguap tanpa berkesan apa apa.

Seperti biasa, saya mau me-review desainnya.

Halaman setelah cover depan Reader’s Digest, Desember 2010. Sumber: arsip pribadi

Desain halaman setelah cover depan ini menawan sekali. Lay-out nya sederhana, tidak menjejalkan terlalu banyak teks. Pemilihan font-nya tepat, perpaduan font klasik (kursif) dan elegan (tanpa kursif), masuk untuk rentang usia pembaca yang luas.

Kemudian gambar kucingnya sangat imut, lucu membikin gemes gregetan. Dia kan binatang yang ‘semau gue’ kalau soal tidur. Posisi bagaimana pun, tetap saja ganteng.

Pilihan warna background-nya senada dengan tumpukan pakaian yang ditiduri si ‘kocheng’. Bisa juga ada kesengajaan pilih pilih warna pakaian sebelum pemotretan agar sesuai dengan warna tema si majalah. Itu sih urusan nomer sekian.

Halaman 1. Sumber: arsip pribadi.

Lanjut ke halaman 1. Tampak seorang pelajar yang sedang asyik membaca buku di taman dengan posisi rebahan. Aduh, enak sekali. Di masa pandemi ini orang menyebutnya ‘gabut’, gaji buta karena tak bekerja, rebahan di rumah sampai pegal pegal, tapi tetap dapat duit dari perusahaan.

Latarnya bagus, di atas rumput taman, kepala menyender ke pohon. Di kanan si pemuda ada gerbang kokoh dan megah dengan warna alami dari bata merah. Pengambilan foto tampaknya dilakukan sebelum tengah hari. Kalau di Indonesia, mungkin sekitar jam 9 pagi.

Pindah review ke bagian lay-out daftar isi majalah. Pemilihan font-nya tepat dan bagus. Nomor halaman dengan judul artikel memakai font yang berbeda. Beda pula ketebalan dan warnanya. Gaya ini khas Eropa dan Amerika. Di Indonesia, media cetak kebanyakan memakai Times New Roman atau font yang mirip-mirip.

Halaman 5. Sumber: arsip pribadi.

Lanjut review segmen ‘Editor’s Letter“. Ahh, konsepnya favorit saya banget. Judul segmen pakai huruf yang ukurannya signifikan dari ukuran font isi artikel, kira-kira 10 lipat. Si desainer cukup berani dan punya selera jenaka.

Sebelum judul segmen, ada ikon surat yang bertipe kartun. Warna kuning mengandung unsur fun, kondisi pikiran yang sedang gembira. Di tempatkan di segmen awal adalah hal yang baik untuk memulai kegiatan dengan suasana ceria.

Kemudian ke bagian artikel. Ada elemen ‘drop cap‘, yaitu huruf awal kalimat di bagian paragraf pertama artikel yang sengaja dibuat dengan ukuran yang drastis. Soal ketebalan huruf yang dibuat ‘drop cap‘ tidak ada aturan baku. Tapi pemilihan hurufnya yang berbeda dari artikel, itu kreatif.

Warna merah itu menunjukkan emosi yang meninggi. Coba perhatikan kalimatnya, “You know Dora, I think that of all us have lessons we refuse to learn.” Ini kalimat penegasan tapi tetap terkontrol, tidak over. Pilhan warna merah cukup tepat. Sinkron juga dengan warna kuning ikon amplop sebelum judul segmen tadi.

Terakhir, bagian penutup artikel segmen tersebut adalah info singkat profil sang editor, Dora Cheok. Ada penyebutan jabatannya di majalah tersebut, kemudian dicantumkan pula email beliau. Bagian ini penting karena menunjang branding majalah tersebut.

Setelah pembaca melahap dari paragraf awal sampai akhir, ternyata isi artikelnya nikmat dan berkualitas. Tentu pembaca ingin tahu nama penulisnya. Setelah tahu pasti memberi kesan yang positif dan menambah penasaran untuk membuka halaman selanjutnya.

Segini dulu review saya di kesempatan ini. Silahkan baca review saya tentang majalah ini di artikel selanjutnya. Tetap semangat!

Salam literasi Indonesia.

Batman dan Linux Sebagai Self Management

Saya penggemar tokoh superhero Batman dan penyuka OS Linux. Keduanya sedikit banyak mempengaruhi pola pikir saya.

Seperti apa contohnya?

Batman sangat hebat dalam strategi. Sebelum bertindak dalam membasmi kejahatan, tokoh yang satu ini telah mengumpulkan informasi lengkap dan analisa yang mendalam. Menyiapkan berbagai rencana matang. Jika rencana pertama gagal maka sudah siap rencana kedua, ketiga, keempat dan seterusnya.

Dalam segi kekuatan pribadi juga hebat. Intelegensia yang tinggi ditunjang dengan kekuatan fisik yang prima dan penguasaan teknik bertarung yang mumpuni.

Bukan tanpa kelemahan. Dia manusia biasa tanpa kekuatan super atau supranatural. Tapi dengan penempaan diri yang sangat keras dan disiplin menjadikannya hebat bahkan sanggup memimpin anggota lain yang punya kekuatan lebih.

Di serial dan filmnya diperlihatkan bahwa Batman terkadang menderita luka yang cukup parah. Tapi dia tetap memaksakan diri. Dia selalu punya cara untuk menutup celah kelemahannya itu dan bahkan menyiapkan strategi untuk menghadapi kondisi terburuk sekalipun.

Misalnya saat dia kalah dari Bane dalam film “Batman: The Dark Night Rises”, tubuhnya terluka cukup parah. Tapi dia punya pengawal yang setia dan tahu cara penyembuhan efektif untuk Bruce Wayne. Juga di film animasinya mengisahkan pengkhiatan sang istri Thalia Al Ghul, Batman sudah merancang kode strategi agar sidekick-nya yakni Dick Grayson menggantikannya untuk sementara, dan strategi ini berjalan lancar.

Beralih ke Linux. Apa makna Linux dalam manajemen pribadi saya?

Pertama, Linux itu sempurna. Dari kesempurnaanya melahirkan banyak varian distro. Apple Mac OS pun merupakan turunan dari Unix yang memang dasar dari Linux. Di era modern ini muncul pula OS baru yang merevolusi dunia digital bernama Android.

Kedua, Linux itu tangguh. Tangguh dari serangan virus, juga tangguh mengikuti arah zaman. Denish Richie dan Ken Thompson memang mempersiapkan OS Unix (dasar dari Linux) agar mampu digunakan untuk jangka waktu yang jauh kedepan.

Ketiga, Linux itu OS gratis dan untuk segala umat. Sebuah konsep yang idealis dan membumi. Seperti mimpi indah yang terwujud di dunia nyata. OS ini adalah simbol perlawanan bagi mereka yang hidup dalam kemapanan dan ingin mendominasi dunia dengan kekayaan.

Salam tangguh!