Anakku, Maafkan Ayah

Kali ini aku agak lebay. Ini menyangkut kebahagiaan putriku yang masih batita. Ayah mana yang tega membiarkan putrinya menderita.

Hancur hati ini melihat dia, putriku yang masih asyik menyusu kepada ibunya mesti disapih dengan paksaan. Aku dan istriku termakan informasi murahan yang mengharuskan kami menyapihnya dengan paksa.

Bodoh! Sungguh bodohnya aku sebagai kepala keluarga. Tega, tega melepaskan buaian lembut sang ibu dari dirinya.

Dua malam ini aku menangis melihat putriku yang cantik, manis dan lucu itu harus mendendam. Perlahan memudar keriangannya.

Aku beri makanan, dia bilang “gak mau!”.

Aku beri mainan, masih bilang “gak mau!”

Aku beri susu formula, lagi lagi bilang “gak mau!”

“Ya Allaaah. Mesti bagaimana ini?”

Bagaimana akan kesehatannya nanti kalau semuanya serba “gak mau”? Sekarang saja badannya yang montok jadi mengecil.

Aku terlanjur menyapihnya gara gara sang ibu keguguran. Setelah kutanya dokter di grup Whatsapp, ternyata tidak perlu disapih paksa jika kandungan yang keguguran itu sudah bersih.

Tapi putri kecilku terlanjur marah dan tak mau menyusu lagi kepada ibunya. Sayangnya dia tak mampu mengungkapkan lewat kata kata. Hanya rasa gelisah (yang amat sangat) saja yang kubaca dari gerak geriknya.

Susah tidur. Mondar mandir tak karuan. Mainan diacak acak. Dirapihkan. Diacak acak lagi. Main air sampai mengguyur basah lantai keramik. Bahkan sempat hampir jatuh terpeleset kalau tak kutangkap badannya yang mulai lemas.

Sambil menetes air mataku ini, kubisikkan dengan lembut di telinganya. “Syabina cantik. Anak kesayangan Ayah. Udah mainnya. Lihat tuh mamah, udah bobo dari tadi.”

Dengan cuek dan masih memainkan boneka Barbie-nya dia jawab, “gak mau”.

Kutatap matanya, “Syabina. Lihat Ayah!”. Tangannya yang lembut menyingkirkan wajahku dari pandangannya sambil mengatakan, “gak mau!”

Kutatap lagi matanya sambil berurai air mata. “Syabina. Lihat mata Ayah. Usap sini!”. Reaksinya membuatku terenyuh. Selimut kecilnya diusapkan ke wajahku, mengusap air mata yang berurai jatuh karena rasa menyesal.

Hancur perasaanku ini. Anak pertama yang kutunggu kehadirannya lima tahun, kini terluka oleh kecerobohanku sendiri.

Kumohon Ya Allaah. Kembalikan lagi kebahagiaanya.

Kliping Reader’s Digest Desember 2010 Part 1

Saya masih menyimpan beberapa sumber bacaan favorit. Beberapa di antaranya adalah majalah Intisari dan Reader’s Digest.

Waktu itu hari Sabtu jam 5 sore, pikiran sedang ruwet karena berbagai urusan, salah satunya adalah karena masih jomblo. Hihihihi… Mampirlah saya ke toko buku favorit saya, Gramedia Mall Cijantung, Jakarta Timur.

Naluri seni saya mendorong untuk mengabadikan bagian bagian yang —secara visual— sedap dipandang mata, tidak lekang oleh waktu. Sangat sayang jika bagian bagian itu hilang menguap tanpa berkesan apa apa.

Seperti biasa, saya mau me-review desainnya.

Halaman setelah cover depan Reader’s Digest, Desember 2010. Sumber: arsip pribadi

Desain halaman setelah cover depan ini menawan sekali. Lay-out nya sederhana, tidak menjejalkan terlalu banyak teks. Pemilihan font-nya tepat, perpaduan font klasik (kursif) dan elegan (tanpa kursif), masuk untuk rentang usia pembaca yang luas.

Kemudian gambar kucingnya sangat imut, lucu membikin gemes gregetan. Dia kan binatang yang ‘semau gue’ kalau soal tidur. Posisi bagaimana pun, tetap saja ganteng.

Pilihan warna background-nya senada dengan tumpukan pakaian yang ditiduri si ‘kocheng’. Bisa juga ada kesengajaan pilih pilih warna pakaian sebelum pemotretan agar sesuai dengan warna tema si majalah. Itu sih urusan nomer sekian.

Halaman 1. Sumber: arsip pribadi.

Lanjut ke halaman 1. Tampak seorang pelajar yang sedang asyik membaca buku di taman dengan posisi rebahan. Aduh, enak sekali. Di masa pandemi ini orang menyebutnya ‘gabut’, gaji buta karena tak bekerja, rebahan di rumah sampai pegal pegal, tapi tetap dapat duit dari perusahaan.

Latarnya bagus, di atas rumput taman, kepala menyender ke pohon. Di kanan si pemuda ada gerbang kokoh dan megah dengan warna alami dari bata merah. Pengambilan foto tampaknya dilakukan sebelum tengah hari. Kalau di Indonesia, mungkin sekitar jam 9 pagi.

Pindah review ke bagian lay-out daftar isi majalah. Pemilihan font-nya tepat dan bagus. Nomor halaman dengan judul artikel memakai font yang berbeda. Beda pula ketebalan dan warnanya. Gaya ini khas Eropa dan Amerika. Di Indonesia, media cetak kebanyakan memakai Times New Roman atau font yang mirip-mirip.

Halaman 5. Sumber: arsip pribadi.

Lanjut review segmen ‘Editor’s Letter“. Ahh, konsepnya favorit saya banget. Judul segmen pakai huruf yang ukurannya signifikan dari ukuran font isi artikel, kira-kira 10 lipat. Si desainer cukup berani dan punya selera jenaka.

Sebelum judul segmen, ada ikon surat yang bertipe kartun. Warna kuning mengandung unsur fun, kondisi pikiran yang sedang gembira. Di tempatkan di segmen awal adalah hal yang baik untuk memulai kegiatan dengan suasana ceria.

Kemudian ke bagian artikel. Ada elemen ‘drop cap‘, yaitu huruf awal kalimat di bagian paragraf pertama artikel yang sengaja dibuat dengan ukuran yang drastis. Soal ketebalan huruf yang dibuat ‘drop cap‘ tidak ada aturan baku. Tapi pemilihan hurufnya yang berbeda dari artikel, itu kreatif.

Warna merah itu menunjukkan emosi yang meninggi. Coba perhatikan kalimatnya, “You know Dora, I think that of all us have lessons we refuse to learn.” Ini kalimat penegasan tapi tetap terkontrol, tidak over. Pilhan warna merah cukup tepat. Sinkron juga dengan warna kuning ikon amplop sebelum judul segmen tadi.

Terakhir, bagian penutup artikel segmen tersebut adalah info singkat profil sang editor, Dora Cheok. Ada penyebutan jabatannya di majalah tersebut, kemudian dicantumkan pula email beliau. Bagian ini penting karena menunjang branding majalah tersebut.

Setelah pembaca melahap dari paragraf awal sampai akhir, ternyata isi artikelnya nikmat dan berkualitas. Tentu pembaca ingin tahu nama penulisnya. Setelah tahu pasti memberi kesan yang positif dan menambah penasaran untuk membuka halaman selanjutnya.

Segini dulu review saya di kesempatan ini. Silahkan baca review saya tentang majalah ini di artikel selanjutnya. Tetap semangat!

Salam literasi Indonesia.

Inspirasi Film The Forbidden Kingdom

film ini sudah berkali kali saya tonton sejak awal kemunculannya di *2010. tapi anehnya tidak pernah saya ikuti dari awal sampai habis secara penuh. selalu saja ada gangguan, entah itu karena kesibukan dengan pekerjaan di rumah, ada telpon masuk dan apalagi setelah punya anak, dipaksa main oleh si princess yang cantik dan menggemaskan itu.

hal yang menginspirasi saya dari film ini adalah:

1. genrenya. saya sangat suka dengan genre yang satu ini.

2. efek CGI-nya bagus. genre fantasi memang wajib didukung oleh efek CGI yang mumpuni kalau ingin sukses besar.

3. jalan ceritanya juga bagus. melalui mimpi yang tak lazim, seorang yang bukan siapa siapa bisa berubah jadi sosok yang luar biasa.

4. kemampuan akting para pemainnya sangat bagus, terutama Jackie Chan dan Jet Li. ya iyalah, mereka sudah membintangi puluhan judul film laris. bahkan sudah mencapai level yang disebut ‘legend’.

5. latar lokasi syutingnya juga sangat indah. suasana penggambaran kerajaan kuno yang kental dengan nuansa magis ala negeri tirai bambu. ladang *padi tempat si pemuda ‘terpilih’ belajar kungfu juga bagus, meyegarkan pikiran dari kepenatan hidup di kota metropolitan.

6. kata kata motivasi dari para guru kungfu terhebat di film itu yakni Jackie Chan dan Jet Li itu sangat khas China dan mengandung makna yang dalam. bermakna untuk menjalani kehidupan yang kadang membuat jenuh dan kalah di tengah jalan.

sebenarnya ada beberapa hal dalam film ini yang tidak saya sukai, yaitu peran Sang Raja Kera Sun Gokong yang diperankan oleh Jet Li. faktor ini mengganjal di pikiran saya (sampai turun merembet ke lambung juga). ekspresi jenaka sun gokong ala Jet Li itu masih ‘jaim’, jadinya tidak maksimal.

Menikmati Proses Ibadah

Bismillaah

Alhamdulillaah. Selesai shalat subuh ini saya diberi ilham tentang konsep menikmati proses ibadah.

Hal ini harus melalui kesadaran setelah dilakukan dalam waktu yang lama dan konsisten. Di saat masih anak anak, saya hanya tahu pemahaman dasar bahwa ibadah adalah untuk melaksanakan kewajiban. Meraih surga dan terhindar dari api neraka.

Semakin dewasa semakin bertambah pemahaman dan kesadaran yang mendalam akan hakikat ibadah. Beribadah bukan lagi sekedar menunaikan tugas agama dan menghindari akan hukuman di akhirat. Tapi ada makna yang lebih tinggi, yaitu menikmatinya.

Saya sejajarkan dengan istilah passion. Bekerja sesuai passion itu amat sangat nikmat dan bergairah. Melewatkannya membuat hidup kurang ‘greget’.

Contoh sederhananya begini: Anggap saja saya ini hobi dengan bidang otomotif. Kebetulan, Saya bekerja sebagai mekanik. Saya seorang maestro, sangat tahu betul seluk beluk mesin dari yang paling penting sampai yang remeh temeh. Lebih ekstrimnya saya sebut dengan maniak atau penggila otomotif.

Misalkam suatu ketika, saya punya cukup ‘budget’ untuk merakit mesin sendiri. Saking tingginya ‘skill’, saya pantang melewatkan satu pun proses dalam merakit mesin. Sekecil apapun tahapan proses itu atau remeh bagi orang lain, bagi saya adalah penting karena saya tahu betul dengan apa yang saya lakukan.

Bagi orang lain tidak terlalu urgen. Tapi Anda tidak perduli. Modalnya seratus persen dari Anda, tempatnya punya saya, yang merakit juga saya sendiri. Maka proses merakitnya juga terserah saya.

Sampai di tahap yang seperti itu Anda sudah mencapai level makrifat atau ‘khususil khusus’. Orang yang seperti ini jumlahnya sangat terbatas. Memang sangat berat. Tapi jika sudah diberikan hidayah, menjadi sangat nikmat.

Deg-degan Karena ODP Corona

Maret 2020 ini bulan yang menyeramkan karena dunia, khususnya Indonesia dalam kondisi darurat Covid-19 atau singkatnya Corona. Apalagi yang tinggal atau bekerja di DKI Jakarta, hidup rasanya seperti film horor. Di status Whatsapp saya menyebut kondisi ini dengan ‘Resident Evil the Series: Covid-19 (Reality Version). Gokil!

Lima hari dalam meminggu saya mesti berangkat kerja menggunakan Commuter Line/KRL arah jalur Bogor-Jakarta Kota. Hati ini ketar- ketir khawatir terpapar virus jahannam Covid-19/Corona. Sakit parnonya, tanggal 16 Maret lalu saya gunakan APD (alat pelindung diri) lebih dari standar biasa. Saya pakai sarung tangan. Dianggap lebay tak saya gubris, yang penting lebih aman buat saya.

Rasa panik mulai muncul di Stasiun Pasar Minggu. Hidung saya terasa perih menandakan awal gejala flu. Fokus saya hanya kesitu saja. Sampai di Stasiun Juanda saya langsung meminta pemeriksaan tim kesehatan. Alhamdulillaah hasilnya negatif. Tapi hati saya masih ragu karena petugas kesehatan stasiun tidak dilengkapi dengan alat medis yang memadai.

Saya hanya ditanya “…batuk-pilek atau tidak?”, “…sesak napas atau tidak?” Ok-lah, saya masih maklum. Lagi-lagi ada hal yang membuat saya khawatir. Ada wanita muda berjilbab, usia sekitar 32 tahun terbaring lemas di ranjang sebelah kiri saya. Wajahnya pucat dan menahan kesakitan. “Jangan-jangan dia terpapar corona. Aduh ya Allaah, jangan sampai dia menularkan lagi ke saya”.

Saya lanjutkan perjalanan ke tempat kerja. Lokasinya hanya sekitar 500 m dari stasiun Juanda. Masih ada waktu 15 menit sebelum memulai pekerjaan. Lagi-lagi penyakit lama muncul, tenggorokan gatal sehingga sulit menahan diri untuk batuk. Saya terus memberi sugesti yang baik bahwa saya sudah dinyatakan negatif oleh petugas kesehatan stasiun.

Kamis 19 Maret, saya benar-benar kena flu dan bersin kecil di jam kerja sekitar pukul 10 pagi dan jam 2 siang. Untungnya teman kerja saya tak terlalu paranoid, jadinya saya masih bisa fokus bekerja walau hati bimbang.

Minggu 22 Maret, jam 10 malam lagi-lagi saya flu dan bersin-bersin. Saya tanya via whatsapp ke teman kerja soal fku ini. Sebab di hari kamis ada selentingan dari teman-teman kerja yang menyakatan bahwa bagi yang merasa tidak enak badan sebaiknya memeriksakan diri sebelum bekerja.

Akhirnya saya pergi berobat ke klinik terdekat. Setelah menunggu antrian sekitar 30 menit akhirnya tiba giliran saya. Seperti biasanya, saya ditanyai dokter tentang apa keluhan saya. Saya katakan bahwa saya merasakan tenggorokan gatal dan flu. “Apa ini gejala corona, dok?” tanya saya merasa khawatir. “Enggak juga sih Pak. Belum jelas” jawab dokter Sarah datar.

“Bapak pernah kontak dengan suspek corona gak?” dokter balik bertanya. Saya ceritakan riwayat gejala yang selama ini jadi kekhawatiran sejak Senin 16 Maret lalu. “Wah, Bapak tiap hari naik KRL ya?” tanya dokter lagi. “Iya Bu. Tiap hari desak-desakan dengan banyak orang”.

“Sekarang Bapak saya cek dulu. Rebahan di ranjang ya”. Saya ikuti instruksi dokter dan diperiksa denyut jantung dan kondisi tenggorokan. “Denyut jantung Bapak normal. Tensi darah normal. Tenggorokan sedikit radang.” nadanya santai. “Tapi sepertinya napas Bapak sesak?” lanjutnya curiga. “Iya sih Bu. Tapi sedikit” jawabku kaget karena tak terpikirkan sebelumnya akan ditanya kondisi napas.

“Besok pagi jam 10 Bapak wajib cek darah dan ronsen!” nadanya menegaskan. “Berarti besok saya gak kerja dong Bu?” tanyaku bingung. “Iya. Gak apa-apa. Nanti saya buatkan surat keterangan berobat”.

Saya tak menyangka akan begini kondisinya. Memang sih saya sedikit senang karena tidak jadi kerja, tapi khawatir. Jangan-jangan dugaan saya selama ini benar? Dugaan bahwa saya sudah terpapar corona dari wanita muda berjilbab yang Senin lalu terbaring lemah di pos kesehatan Stasiun Juanda? “Haduh! Bagaimana ini?! Tolong kuatkan mental hamba-Mu ini ya Allaah.”

Langkah saya gamang. Sedikit depresi sambil berusaha menenangkan diri. Hal terburuknya adalah jikapun umur saya habis sampai di sini, saya bingung karena pribadi masih belum baik, anak masih kecil. Siapa nanti yang akan memberinya makan? Bla, bla, bla. Pikiran kacau tak karuan kalau saya terus fokus ke sana.

Jam 10 pagi tak terasa sudah tiba. Rasanya cepat sekali waktu kalau umur sudah hampir habis. Saya datang lagi ke klinik. Antri lagi sekitar 40 menit. “Lengan bajunya diangkat ya Pak!” pinta dokter yang semalam dengan nada sedikit naik. “Disuntik Bu?” tanyaku basa-basi. “Iya Pak. Kan mau diambil darahnya”. Huh! Lagi-lagi diambil darah, tindakan medis yang sangat saya benci harus terulang untuk kesekian kalinya.

Jam 13:00. Saya kembali lagi ke klinik untuk mengambil hasil cek darah dan ronsen paru-paru. Tapi menunggu lagi karena antrian sedang penuh. Satu jam kemudian saya dipanggil ke ruang dokter.

“Bu. Masih dokter yang semalam ya?” tanyaku pura-pura polos. “Bukan.” jawabnya singkat dan sedikit kecut. “Kok suara sama mata Ibu kayak yang semalam?” tanyaku lagi jahil. “Iya. Masih yang semalam”. “Oh… Hebat Bu. Biasanya gonta-ganti”.

“Pak. Kondisi paru-parunya ada flek. Tapi status Bapak ODP.” kata dokter datar. “Hah?! ODP Bu? Kok bisa?” tanyaku kaget. “Soalnya darah Bapak belum dites swab. Mesti nunggu seminggu lagi. Sementara ini Bapak isolasi diri di rumah selama 14 hari.” lanjutnya sedikit rewel. “Bapak gak sendiri. Udah banyak yang statusnya ODP kayak Bapak.” Saya menerima kondisi ini dengan lemas.

Ternyata sesuai dugaan, saya terpapar. Tapi terpapar dari siapa? “O iya. Mungkin dari wanita sakit yang terbaring di ranjang waktu cek kesehatan di Stasiun Juanda. Ah, tapi belum tentu juga. Masih ada kemungkinan negatif. Pikiran mesti tetap positif” begitu saja gejolak batin sambil berjalan arah pulang ke kontrakan.

Baru divonis ODP saja sudah bikin keringat panas dingin. Apalagi kalau benar-benar positif. Saya informasikan kabar ini beserta surat vonis ODP via whatsapp ke manager di kantor dan ke teman yang lokasinya dekat kontrakan. Tak lupa saya beritahu juga ke istri, orang tua dan sanak saudara.

Senin jam 7 malam whatsapp ramai sekali dengan pertanyaan dari teman-teman kerja. Mereka tak menyangka saya bisa divonis ODP. Bahkan parahnya ada yang memnuat isu bahwa saya positif corona. Hampir membuat saya emosi. Tapi saya malas melacak oknumnya.

Selasa pagi saya masih bingung. Kenapa saya bisa mengalami kejadian ini. Kabarnya kantor pusat jadi heboh. Mereka yang di hari Kamis pernah kontak dengan saya jadi ketakutan terpapar. Semua ruangan disemprot disinvektan sapaya steril.

Yang Berharga Selain Kekayaan

Bsmllh

Tanpa terasa umur kita terus berkurang. Apa makna hidup kita selama ini? Bermanfaatkah kita untuk kehidupan yang hanya sebentar ini?

Di akhir usia, sebanyak apapun harta kekayaan tak ada artinya. Di saat itu makna spiritual-lah yang lebih bermanfaat untuk manusia.

Tak perlu orang membawakan sesuatu untuk kita di saat pernikahan. Kita hnya butuh kehadiran teman atau kerabat. Uang tak ada maknanya. Perhatianlah harta utama yang dibutuhkan saat itu.

Gaya Hidup Moderat Ala Saya

Tiga jam sudah saya mengikuti pengajian rutin Minggu malam sehabis shalat isya bersama Ust. Ghazali. Yang saya bahas bukan isi pengajiannya, tapi pandangan pribadi tentang ‘legalitas’ gaya hidup seperti yang saya jalani selama ini.

Lantas, gaya hidup seperti apa sih yang selama ini saya lakukan?

Saya simpulkan bahwa yang saya jalani adalah gaya hidup moderat.